Feeds:
Pos
Komentar

manfaat shalat tahajud

manfaat shalat tahajud

Shalat Tahajjud Bisa Mengatasi Kanker. Sebuah penelitian ilmiah membuktikan, shalat tahajjud membebaskan seseorang dari pelbagai penyakit.

Berbahagialah Anda yang rajin shalat tahajjud. Di satu sisi pundi-pundi pahala Anda kian bertambah, di sisi lain, Anda pun bisa memetik keuntungan jasmaniah. Insya Allah, Anda bakal terhindar dari pelbagai penyakit .

Itu bukan ungkapan teoritis semata, melainkan sudah diuji dan dibuktikan melalui penelitian ilmiah. Penelitinya dosen Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Surabaya, Mohammad Sholeh, dalam usahanya meraih gelar doktor. Sholeh melakukan penelitian terhadap para siswa SMU Lukmanul Hakim Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya yang secara rutin memang menunaikan shalat tahajjud.

Ketenangan
Shalat tahajjud yang dilakukan di penghujung malam yang sunyi, kata Sholeh, bisa mendatangkan Ketenangan. Sementara ketenangan itu sendiri terbukti mampu meningkatkan ketahanan tubuh imunologik, mengurangi resiko terkena penyakit jantung dan meningkatkan usia harapan hidup.

Sebaliknya, bentuk-bentuk tekanan mental seperti Stres maupun Depresi membuat seseorang rentan terhadap berbagai penyakit, infeksi dan mempercepat perkembangan sel kanker serta meningkatkan metastasis (penyebaran sel kanker). Tekanan mental itu sendiri terjadi akibat gangguan irama sirkadian (siklus bioritmik manusia) yang ditandai dengan peningkatan Hormon Kortisol. Perlu diketahui, Hormon Kortisol ini biasa dipakai sebagai tolok ukur untuk mengetahui kondisi seseorang apakah jiwanya tengah terserang stres, depresi atau tidak.

Untungnya, kata Sholeh, Stres Bisa Dikelola. Dan pengelolaan itu bisa dilakukan dengan cara edukatif atau dengan cara Teknis Relaksasi atau Perenungan/Tafakur dan umpan balik hayati (bio feed back). “Nah, shalat tahajjud mengandung aspek meditasi dan relaksasi sehingga dapat digunakan sebagai coping mechanism atau pereda stres yang akan meningkatkan ketahanan tubuh seseorang secara natural”, jelas Sholeh dalam disertasinya berjudul Pengaruh Shalat Tahajjud Terhadap Peningkatan Perubahan Respon Ketahanan Tubuh Imunologik.

Tahajjud harus secara Ikhlas & Kontinyu
Namun pada saat yang sama, shalat tahajjud pun Bisa Mendatangkan Stres, terutama bila Tidak Dilaksanakan Secara Ikhlas dan Kontinyu. “Jika tidak dilaksanakan dengan ikhlas, bakal terjadi kegagalan dalam menjaga homeostasis atau daya adaptasi terhadap perubahan pola irama pertumbuhan sel yang normal, tetapi jika dijalankan dengan ikhlas dan kontinyu akan sebaliknya”, katanya kepada Republika.
Dengan begitu, keikhlasan dalam menjalankan shalat tahajjud menjadi sangat penting. Selama ini banyak kiai, dan intelektual berpendapat bahwa ikhlas adalah persoalan mental-psikis. Artinya, hanya Allah swt yang mengetahui dan mustahil dapat dibuktikan secara ilmiah. Namun lewat penelitiannya, Sholeh berpendapat lain.

Ia yakin, secara medis, ikhlas yang dipandang sebagai sesuatu yang misteri itu bisa dibuktikan secara kuantitatif melalui indikator sekresi hormon kortisol. “Keikhlasan Anda dalam shalat tahajjud dapat dimonitor lewat irama sirkadian, terutama pada sekresi hormon kortisolnya”, kata pria yang meraih gelar doktor pada bidang psikoneoroimunologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga ini.

Dijelaskan Sholeh, jika ada seseorang yang merasakan sakit setelah menjalankan shalat tahajjud, besar kemungkinan itu berkaitan dengan niat yang tidak ikhlas, sehingga gagal terhadap perubahan irama sirkadian tersebut. Gangguan adaptasi itu tercermin pada sekresi kortisol dalam serum darah yang seharusnya menurun pada malam hari. Apabila sekresi kortisol tetap tinggi, maka produksi respon imunologik akan menurun sehingga berakibat munculnya gangguan kesehatan pada tubuh seseorang. Sedangkan sekresi kortisol menurun, maka indikasinya adalah terjadinya
produksi respon imunologik yang meningkat pada tubuh seseorang. Niat yang tidak ikhlas, kata Sholeh, akan menimbulkan Kekecewaan, Persepsi Negatif, dan Rasa Tertekan. Perasaan negatif dan tertekan itu menjadikan seseorang rentan terhadap serangan stres.

Dalam kondisi stres yang berkepanjangan yang ditandai dengan tingginya sekresi kortisol, maka hormon kortisol itu akan bertindak sebagai imunosupresif yang menekan proliferasi limfosit yang akan mengakibatkan imunoglobulin tidak terinduksi. Karena imunoglobulin tidak terinduksi maka sistem daya tahan tubuh akan menurun sehingga rentan terkena infeksi dan kanker.

Kanker, seperti diketahui, adalah pertumbuhan sel yang tidak normal. “Nah, kalau melaksanakan shalat tahajjud dengan ikhlas dan kontinyu akan dapat merangsang pertumbuhan sel secara normal sehingga membebaskan pengamal shalat tahajjud dari berbagai penyakit dan kanker (tumor ganas),” kata alumni Pesantren Lirboyo Kediri Jatim ini. Menurutnya, shalat tahajjud yang dijalankan dengan tepat, kontinyu, khusuk, dan ikhlas dapat menimbulkan persepsi dan motivasi positif sehingga menumbuhkan coping mechanism yang efektif.

Sholeh menjelaskan, respon emosional yang positif atau coping mechanism dari pengaruh shalat tahajjud ini berjalan mengalir dalam tubuh dan diterima oleh batang otak. Setelah diformat dengan bahasa otak, kemudian ditrasmisikan ke salah satu bagian otak besar yakni Talamus. Kemudian, Talamus menghubungi Hipokampus (pusat memori yang vital untuk mengkoordinasikan segala hal yang diserap indera) untuk mensekresi GABA yang bertugas sebagai pengontrol respon emosi, dan menghambat Acetylcholine, serotonis dan neurotransmiter yang lain yang memproduksi sekresi kortisol.

Selain itu, Talamus juga mengontak prefrontal kiri-kanan dengan mensekresi dopanin dan menghambat sekresi seretonin dan norepinefrin. Setelah terjadi kontak timbal balik antara Talamus-Hipokampus-Amigdala-Prefrontal kiri-kanan, maka Talamus mengontak ke Hipotalamus untuk mengendalikan sekresi korti

 

 

Hak-Hak Suami Istri

Usrah (rumah tangga) merupakan batu (pondasi) pertama dalam sebuah bangunan mujtama’ (masyarakat); jika setiap keluarga itu (usrah) baik maka seluruh mujtama’ (masyarakat) menjadi baik, jika ia rusak maka seluruh mujtama’ menjadi rusak. Oleh karena itu, Islam memberi perhatian yang besar terhadap persoalan usrah dan telah menetapkan pedoman yang diharapkan mampun menjamin keselamatan dan kebahagiaan rumah tangga.

Islam memandang rumah tangga usrah adalah bangunan yang berdiri tegak di atas sebuah perserikatan diantara suami dan isteri. Sebagai penanggung jawab pertama adalah suami. Allah berfirman, ”Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta benda mereka. Sebab itu maka wanita yang shalih ialah yang ta’at kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada oleh karena Allah telah memelihara (mereka).” (An-Nisaa’:34).

Islam telah menetapkan hak-hak bagi setiap orang dari dua orang yang berserikat (suami dan isteri). Dengan terlaksananya hak-hak tersebut, akan memberi jaminan bagi kestabilan bangunan rumah tangga. Dan Islam sangat menganjurkan kepada masing-masing dari kedua belah pihak agar menunaikan kewajibannya dan supaya menutup mata terhadap apa yang kadang-kadang terjadi dalam bentuk sikap memandang enteng terhadap kewajibannya.

Sumber: Diadaptasi dari ‘Abdul ‘Azhim bin Badawi al-Khalafi, Al-Wajiz Fi Fiqhis Sunnah Wal Kitabil ‘Aziz, atau Al-Wajiz Ensiklopedi Fikih Islam dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-Shahihah, terj. Ma’ruf Abdul Jalil (Pustaka As-Sunnah), hlm. 581 — 582.


Al wasilah (perantaraan)

Orang Muslim beriman bahwa Allah Ta’ala menyukai amal perbuatan yang paling shalih, dan paling baik. Dia mencintai hamba-hamba-Nya yang shalilh dan menyuruh mereka mendekat kepada-Nya, mencari kecintaan kepada-Nya, dan mencari perantaraan kepada-Nya.
Oleh karena itu, orang Muslim bertaqarrub (mendekat) kepada Allah Ta’ala dengan amal perbuatan yang shalih, dan perkataan-perkatan yang baik. Ia meminta kepada Allah Ta’ala dan mendekat kepada-Nya dengan Asmaul Husna-Nya, sifat-sifat-Nya yang maha tinggi, beriman kepada-Nya dan Rasul-Nya, mencintai-Nya dan mencintai Rasul-Nya, mencintai orang-orang shalih, dan mencintai seluruh kaum mukminin. Ia mendekat kepada Allah Ta’ala dengan ibadah-ibadah seperti shalat, zakat, puasa, haji dan ibadah-ibadah sunnah. Ia juga mendekat kepada Allah Ta’ala dengan meninggalkan hal-hal haram, dan menjauhi larangan-larangan.

Ia tidak meminta kepada Allah Ta’ala dengan kedudukan salah seorang dari manusia, atau dengan amal perbuatan salah seorang dari hamba-hamba-Nya. Karena kedudukan seseorang itu bukan karena usahanya, dan amal perbuatan seseorang itu bukan berasal dari amal perbuatannya, sehingga ia harus meminta kepada Allah Ta’ala dengannya, atau mempersembahkan perantaraan di depan-Nya dengannya.

Allah Ta’ala tidak menyuruh hamba-hamba-Nya bertaqarrub (mendekat) kepada-Nya dengan selain amal perbuatan mereka, dan selain kebersihan ruhani mereka, namun dengan iman, dan amal shalih, karena dalil-dalil wahyu dan dalil-dalil akal.

Dalil-Dalil Wahyu

1. Penjelasan Allah Ta’ala tentang hal tersebut dalam firman-firman-Nya seperti dalam firman-firman-Nya berikut ini.
* “Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang shalih dinaikkan-Nya.” (Fathir: 10)
* “Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang shalih.” (Al-Mukminun: 51)
* “Dan Kami masukkan dia ke dalam rahmat Kami, karena sesungguhnya dia termasuk orang-orang shalih.” (Al-Anbiya’: 75)
* “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya.” (Al-Maidah: 35)
* “Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah).” (Al-Isra’: 57)
* “Katakanlah, ‘Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi kalian, dan mengampuni dosa-dosa kalian Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Ali Imran: 31)
* “Ya Tuhan kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan telah kami ikuti rasul, karena itu masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (tentang keesaan Allah) .” (Ali Imran: 53)
* “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman (yaitu), ‘Berimanlah kalian kepada Tuhan kalian’, maka kami pun beriman. Ya Tuhan kami ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti.” (Ali Imran: 193)
* “Hanya milik Allah asmaul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (Al-A’raaf: 180)
* “Dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan).” (Al-Alaq: 5)
2. Penjelasan Rasulullah saw. tentang hal tersebut dalam sabda-sabdanya, seperti sabda-sabdanya berikut ini.
* “Sesungguhnya Allah itu baik yang tidak menerima kecuali yang baik-baik.” (Diriwayatkan Muslim, At-Tirmidzi dan Ahmad).
* “Kenalilah Allah pada saat sejahtera, Allah pasti mengenalmu pada saat kesulitan.” (Diriwayatkan At-Tirmidzi dan ia men-shahih-kannya).
* “Hamba-Ku tidak mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai dari apa yang Aku wajibkan kepadanya. Hamba-Ku tidak henti-hentinya mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga aku mencintainya.” (Mutafaq Alaih).
* Sabda Rasulullah saw. dalam hadits qudsi, “Jika hamba-Ku mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat padanya satu hasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat padanya sedepa. Jika datang kepada-Ku dengan berjalan, Aku datang kepadanya dengan lari-lari kecil.” (Diriwayatkan Al-Bukhari).
* Dalam hadits lain, Rasulullah saw. bercerita tentang orang-orang yang tertahan di dalam gua karena batu menutup pintunya. Lalu, salah seorang dari mereka mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan baktinya kepada kedua orang tuanya, orang kedua dengan meninggalkan apa yang diharamkan Allah Ta’ala padanya, dan orang ketiga dengan mengembalikan hak kepada pemiliknya padahal ia amat menginginkannya. Ini terjadi setelah salah seorang dari mereka berkata kepada mereka, “Ingat-ingatlah amal perbuatan shalih yang kalian kerjakan karena Allah, kemudian berdoalah kalian kepada Allah dengan amal-amal tersebut. Mudah-mudahan menghilangkan musibah ini dari kalian.” Kemudian mereka berdoa, dan mendekat (tawassul) kepada Allah dengan amal perbuatannya masing-masing, hingga kemudian Allah membuka gua untuk mereka, dan mereka bisa keluar daripadanya dengan selamat. (Muttafaq Alaih).
* “Saat terdekat seorang hamba dengan Tuhannya ialah ketika ia sujud.” (Diriwayatkan Muslim dan lain-lainnya).
* “Ya Allah, aku meminta kepada-Mu dengan semua nama-Mu yang Engkau namakan Diri-Mu dengannya, atau Engkau turunkan di dalam Kitab-Mu, atau Engkau ajarkan kepada salah seorang dari makhluk-Mu, atau Engkau rahasiakan di dalam ilmu ghaib di sisi-Mu, hendaklah Engkau menjadikan Al-Qur’an yang agung sebagai taman hatiku, sebagai cahaya dadaku, sebagai penghilang kesedihanku, dan sebagai pelipur kecemasanku, dan kekalutanku.” (Diriwayatkan Ahmad dengan sanad yang baik).
* “Sungguh orang ini telah berdoa kepada Allah dengan nama Allah yang terbesar di mana Allah tidak diminta dengannya melainkan Dia mengabulkan.” (Diriwayatkan Ahmad).
3. Kisah-kisah tawassul para nabi disebutkan dalam Al-Qur’an Al-Karim, dan bahwa mereka bertawassul dengan nama-nama Allah Ta’ala, sifat-sifat-Nya, iman kepada-Nya, amal shalih, dan tidak dengan selain itu semua.
* Nabi Yusuf Alaihis-Salam berkata dengan tawassulnya, “Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kerajaan, dan telah mengajarkan kepadaku sebagian ta’bir mimpi. Wahai Pencipta langit dan bumi, Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang shalih.” (Yusuf: 101).
* Dzun Nun (Nabi Yunus) Alaihis-Salam berkata dengan tawassulnya, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku, maka Allah mengampuninya.” (Al-Qashash: 16).
* Nabi Musa Alaihis-Salam berkata dengan tawassulnya, “Sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhan kalian dari setiap orang yang menyombongkan diri yang tidak beriman kepada hari berhisab.” (Ghafir: 27).
* Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail berkata dalam tawassul keduanya, “Ya Tuhan kami, terimalah dari kami (amalan kami), sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-Baqarah: 127).
* Adam dan Hawa berkata, “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (Al-A’raaf: 23)

Dalil-Dalil Akal

1. Kemahakayaan Allah Ta’ala, dan kemiskinan hamba menghendaki hamba yang miskin mendekat kepada Allah Yang Mahakaya, agar hamba yang miskin dan lemah tersebut bisa selamat dari apa yang ia takutkan, dan beruntung dengan apa yang dicintai Allah, dan disenangi-Nya.
2. Ketidaktahuan seorang hamba terhadap apa saja yang dicintai AllahTa’ala, dan perkataan dan perbuatan yang dibenci-Nya menghendaki bahwa pendekatan itu hanya terbatas pada apa saja yang telah disyariatkan Allah Ta’ala, dan dijelaskan Rasul-Nya baik berupa perkataan, dan perbuatan yang baik yang harus dikerjakan, atau perkataan, dan amal perbuatan kotor yang harus ditinggalkan.
3. Kedudukan yang dimiliki seseorang yang bukan karena usahanya, dan amal perbuatannya yang bukan hasil kerja kedua tangannya itu menghendakinya mendekat kepada Allah Ta’ala dengan amal perbuatannya. Karena, kedudukan seseorang itu – kendati setinggi apa pun – itu tidak bisa menjadi sarana pendekat bagi orang lain kepada Allah Ta’ala. Kecuali jika orang tersebut beramal dengan anggota badannya, atau hartanya untuk mendapatkan kedudukan pemilik kedudukan tersebut. Maka, ketika itulah ia meminta kedudukan tersebut kepada Allah dengan amal perbuatannya, karena amal perbuatan tersebut menjadi usahanya, dan hasil kerja kedua tangannya. Ini dengan syarat, dari awal ia memaksudkan amal perbuatan itu ikhlas karena Allah Ta’ala, dan mencari keridhaan-Nya.

Sumber: Diadaptasi dari Abu Bakr Jabir al-Jazairi, Minhaajul Muslim, atau Ensiklopedi Muslim: Minhajul Muslim, terj. Fadhli Bahri (Darul Falah, 2002), hlm. 71-75.

Tauhid Ibadah

Orang Muslim beriman kepada ketuhanan Allah Ta’ala bagi manusia sejak pertama hingga generasi terakhir, kerububiyahan-Nya terhadap alam semesta, bahwa tidak ada pengaturan dunia selain Dia, dan bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia.
Oleh karena itu, ia memperuntukkan bagi Allah ibadah-ibadah yang disyariatkan-Nya kepadanya, dan tidak memalingkannya sedikit pun kepada selain Allah. Jika ia minta pertolongan, ia meminta pertolongan kepada Allah. Jika ia bernadzar, ia tidak bernadzar untuk selain Allah. Untuk Allah-lah semua amal perbuatan batinnya, seperti takut, berharap, taubat, cinta, pengagungan, tawakkal, dan amal perbuatan lahiriyahnya seperti shalat, zakat, haji, dan jihad. Itu semua karena dalil-dalil wahyu dan dalil-dalil akal seperti berikut.

Dalil-Dalil Wahyu

1. Perintah Allah Ta’ala kepada sikap seperti di atas dalam firman-firman-Nya, seperti firman-firman-Nya berikut ini.
* “Sesungguhnya Aku Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengikuti Aku.” (Thaha: 14)
* “Dan hanya kepada-Kulah kalian harus takut (tunduk).” (Al-Baqarah: 40)
* “Hai manusia, sembahlah Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang yang sebelum kalian agar kalian bertakwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagi kalian dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rizki untuk kalian karena itu janganlah kalian mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kalian mengetahui.” (Al-Baqarah: 21-22)
* “Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan yang benar melainkan Allah.” (Muhammad: 19)
* “Maka mohonlah perlindungan kepada Allah, sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Fushshilat:36)
* “Dan hendaklah orang-orang Mukmin itu bertawakal kepada Allah saja.” (At-Taghabun: 13)
2. Penjelasan Allah Ta’ala tentang hal tersebut dalam firman-firman-Nya seperti dalam firman-firman-Nya berikut ini.
* “Dan sungguh Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah Thagut’.” (An-Nahl: 36)
* “Barang siapa ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada tali yang amat kuat dan tidak akan putus.” (Al-Baqarah: 256)
* “Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya, ‘Bahwa tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah oleh kalian akan Aku’.” (Al-Anbiya’: 25)
* “Katakanlah, ‘Maka apakah kalian menyuruh aku menyembah selain Allah, hai orang-orang yang tidak berpengetahuan?’.” (Az-Zumar: 64)
* “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.” (Al-Fatihah: 5)
* “Dia menurunkan para malaikat dengan (membawa) wahyu dengan perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, yaitu, ‘Peringatkanlah oleh kalian, bahwa tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka hendaklah kalian bertakwa kepada-Ku’.” (An-Nahl: 2)
3. Penjelasan Rasulullah saw. tentang hal tersebut dalam hadits-haditsnya, seperti dalam hadits-haditsnya berikut ini.
* Sabda Rasulullah saw. kepada Muadz bin Jabal r.a. yang beliu utus ke Yaman, “Hendaklah yang pertama kali engkau serukan kepada mereka ialah hendaknya mereka beribadah kepada Allah Ta’ala.” (Muttafaq Alaih).
* Sabda Rasulullah saw. kepada Muadz bin Jabal r.a., “Hai Muadz, apa hak Allah atas hamba-hamba?” Muadz bin Jabal menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Rasulullah saw. bersabda, “Yaitu hendaknya mereka beribadah kepada-Nya, dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.” (Diriwayatkan An-Nasai dan ia men-shahih-kannya).
* Sabda Rasulullah saw. kepada Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma, “Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah. Dan jika engkau minta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah.” (Diriwayatkan At-Tirmidzi).
* “Sesuatu yang paling aku khawatirkan pada kalian ialah syirik kecil.” Para sahabat bertanya, “Apa yang dimaksud dengan syirik kecil, wahai Rasulullah?” Rasulullah saw. menjawab, “Riya’. Pada hari kiamat Allah berfirman setelah membalas manusia dengan amal perbuatan mereka, Pergilah kepada orang-orang yang kalian lakukan riya’ di dunia, kemudian lihatlah apakah kalian mendapatkan balasan dari mereka?” (Diriwayatkan Ahmad dari banyak jalur dan hadits ini hasan).
* “Bukankah mereka menghalalkan bagi kalian apa yang diharamkan Allah bagi kalian kemudian kalian juga menghalalkannya dan mereka mengharamkan apa yang dihalalkan Allah kemudian kalian juga mengharamkannya?” Orang-orang menjawab, “Ya betul.” Rasulullah saw. bersabda, “Itulah bentuk ibadah mereka kepadanya.” (Diriwayatkan At-Tirmidzi dan ia meng-hasan-kannya). Sabda di atas diucapkan Rasulullah saw. kepada Adi bin Hatim ketika ia mendengar firman Allah Ta’ala, “Mereka menjadikan pendeta-pendeta, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah.” Kemudian Adi bin Hatim berkata, “Wahai Rasulullah, kita tidak menyembah mereka.”
* “Sesungguhnya permintaan tolong itu tidak kepadaku, namun permintaan tolong itu kepada Allah.” (Diriwayatkan Ath-Thabrani. Hadits ini hasan). Sabda di atas diucapkan Rasulullah saw. setelah sebagian sahabat berkata kepada sebagian sahabat yang lain, “Mari kita minta tolong kepada Rasulullah saw. dari orang munafik yang mengganggu kita.”
* “Barang siapa bersumpah dengan selain Allah, ia telah melakukan syirik.” (Diriwayatkan At-Tirmidzi dan ia meng-hasan-kannya).
* “Sesungguhnya mantra, jimat, dan guna-guna adalah syirik.” (Diriwayatkan Ahmad, Abu Daud, dan lain sebagainya. Hadits ini hasan).

Dalil-Dalil Akal

1. Kesendirian Allah Ta’ala dalam penciptaan makhluk, pemberian rizki, dan pengurusan alam semesta mengharuskan manusia beribadah kepada-Nya saja, dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.
2. Semua makhluk membutuhkan Allah Ta’ala. Jadi, tidak satu pun dari makhluk-makhluk pantas menjadi Tuhan yang disembah bersama Allah Ta’ala.
3. Sesuatu yang tidak mampu memberi pertolongan atau perlindungan tidak berhak untuk dimintai kepadanya pertolongan, bernadzar untuknya, bergantung atau bertawakkal kepadanya.

Sumber: Diadaptasi dari Abu Bakr Jabir al-Jazairi, Minhaajul Muslim, atau Ensiklopedi Muslim: Minhajul Muslim, terj. Fadhli Bahri (Darul Falah, 2002), hlm. 65-70.

Qadha’ adalah keputusan Allah Ta’ala sejak zaman azali tentang ada dan tidaknya sesuatu. Sedang, takdir adalah penciptaan Allah Ta’ala terhadap sesuatu dengan cara tertentu dan di waktu tertentu.

Orang Muslim beriman kepada qadha’ dan takdir Allah Ta’ala, hikmah-Nya, dan kehendak-Nya. Dia yakin bahwa tidak ada satu pun perbuatan sukarela manusia tanpa pengetahuan Allah Ta’ala dan takdir-Nya, Mahabijaksana dalam semua pengaturan-Nya dan tindakan-Nya, bahwa hikmah-Nya itu mengikuti kehendak-Nya. Apa yang Dia kehendaki pasti terjadi dan apa yang tidak Dia kehendaki mustahil terjadi dan bahwa tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah Ta’ala. Orang Muslim meyakini itu semua karena dalil-dalil wahyu, dan dalil-dalil akal.

Dalil-Dalil Wahyu

  1. Penjelasan Allah Ta’ala tentang qadha’ dan takdir-Nya dalam fiman-firman-Nya, seperti dalam firman-firman-Nya berikut ini.
    • “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran (takdir).” (Al-Qamar: 49).
    • “Dan tidak ada sesuatu pun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya dan Kami tidak menurunkannya melaikan dengan ukuran (takdir) yang tertentu.” (Al-Hijr: 21).
    • “Tidak ada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada diri kalian melaikan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah.” (Al-Hadid: 22).
    • “Tidak ada sesutu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah.” (At-Taghabun: 11).
    • “Dan tiap-tiap manusia telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya.” (Al-Isra’: 13).
    • “Katakanlah, sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakkal.” (At-Taubah: 51).
    • “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tidak ada sehelai daun pun yang gugur melaikan Dia mengetahuinya, dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (Al-An’am: 59).
    • “Dan kalian tidak akan dapat menghendaki kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (At-Takwir: 29).
    • “Sesungguhnya orang-orang yang telah ada untuk mereka ketetapan yang baik dari Kami, mereka itu dijauhkan dari neraka.” (Al-Anbiya’: 101).
    • “Dan mengapa kamu tidak mengucapkan tatkata kamu memasuki kebunmu, ‘Sungguh, atas kehendak Allah semua ini terwujud, tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah’.” (Al-Kahfi: 39).
    • “Dan kami sekali-kali tidak akan mendapatkan petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk.” (Al-A’raaf: 43).
  2. Penjelasan Rasulullah saw.tentang hal tersebut dalam sabda-sabdanya, seperti sabda-sabdanya berikut ini.
    • “Sesungguhnya penciptaan salah seorang dari kalian dikumpulkan dalam perut ibunya selama empat puluh hari dalam bentuk nuthfah (sperma), kemudian berubah menjadi ‘alaqah (segumpal darah) selama empat puluh hari, kemudian berubah menjadi mudghah (sepotong daging) selama empat puluh hari, kemudian malaikat dikirim kepadanya kemudian malaikat meniupkan ruh padanya, dan malaikat tersebut diperintahkan empat hal: menuliskan rizkinya, menuliskan ajalnya, menuliskan amal perbuatannya, dan menuliskan apakah ia celaka, atau bahagia. Demi Dzat yang tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia, sesungguhnya salah seorang dari kalian pasti mengerjakan amal perbuatan penghuni surga, hingga ketika jaraknya dengan surga cuma satu lengan, tiba-tiba ketetapan berlaku padanya kemudian ia mengerjakan amal perbuatan penghuni neraka, dan ia pun masuk neraka. Sesungguhnya salah seorang dari kalian pasti mengerjakan amal perbuatan penghuni neraka, hingga ketika jaraknya dengan neraka cuma satu lengan, tiba-tiba ketetapan berlaku padanya kemudian ia mengerjakan amal perbuatan penghuni surga, dan ia masuk surga.” (Diriwayatkan Muslim).
    • Sabda Rasulullah saw. kepada Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu, “Hai anak muda, aku ajarkan beberapa kalimat kepadamu: Jagalah Allah (hukum-hukum-Nya) niscaya Allah menjagamu. Jagalah Allah niscaya Allah berpihak kepadamu. Jika engkau meminta pertolongan maka mintalah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah bahwa jika umat bersatu untuk memberi manfaat kepadamu, maka mereka tidak bisa memberi manfaat kepadamu dengan sesuatu apa pun, kecuali sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah untukmu. Jika mereka bersatu untuk memberikan madharat kepadamu, maka mereka tidak dapat memberi madharat kepadamu dengan sesuatu apa pun, kecuali sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah untukmu. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering.” (Diriwayatkan At-Tarmidzi dan ia men-shahih-kannya).
    • “Sesungguhnya yang pertama kali diciptakan Allah Ta’ala ialah pena, kemudian Allah berfirman kepadanya, ‘Tulislah.’ Pena berkata, ‘Tuhanku, apa yang harus saya tulis?’ Allah berfirman, ‘Tulislah takaran (takdir) segala sesuatu hingga hari kiamat.” (Diriwayatkan Ahmad dan At-Tarmidzi dari Ubadah. Hadits ini hasan).
    • “Musa dan Adam berdebat. Musa berkata, “Hai Adam, engkau ayah kita. Engkau telah merugikan kita dan mengeluarkan kita dari surga. Adam berkata. ‘Engkau Musa, telah dipilih Allah untuk berbicara dengan-Nya dan Allah menulis Taurat untukmu dengan Tangan-Nya, apakah engkau mencelaku karena sesuatu yang telah ditentukan (ditakdirkan) Allah untukku empat puluh tahun sebelum Dia menciptakanku?’ Adam pun mengalahkan Musa.” (Diriwayatkan Muslim).
    • Sabda Rasulullah saw. ketika mendefinisikan iman, “Hendaknya engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, hari akhir, dan engkau beriman kepada takdir, baik buruknya.” (Diriwayatkan Muslim).
    • “Berbuatlah kalian, karena semua orang dipermudah kepada apa yang diciptakan untuknya.” (Diriwayatkan Muslim).
    • “Sesungguhnya nadzar itu tidak menolak qadha’.” (Diriwayatkan Jama’ah. Hadits ini shahih).
    • Sabda Rasulullah saw. kepada Abdullah bin Qais, “Hai Abdullah bin Qais, maukah engkau aku ajari salah satu kalimat dari khazanah surga? Yaitu ucapan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah (laa hawla walaa quwwata illa billah).” (Muttafaq Alaih).
    • Rasulullah saw. bersabda kepada orang yang berkata, “Apa yang dikehendaki Allah dan engkau kehendaki” (maa syaa-allah wa syi’ta), “Katakan: ‘Apa yang dikehendaki Allah saja’ (maa syaa-allahu wahdah).” (Diriwayatkan An-Nasai yang men-shahih-kannya).
  3. Keimanan miliaran ulama-ulama, orang-orang bijak, dan orang-orang shalih dari umat Muhammad saw., dan umat selain umat Muhammad kepada qadha’ Allah Ta’ala, takdir-Nya, Hikmah-Nya, Kehendak-Nya. Bahwa segala sesuatu itu telah diketahui sebelumnya, bahwa segala sesuatu sebelumnya telah ditakdirkan, bahwa tidak terjadi pada kekuasaan-Nya kecuali apa yang Dia inginkan, bahwa apa yang Dia kehendaki pasti terjadi, dan yang tidak Dia kehendaki pasti tidak akan terjadi, dan bahwa pena telah menulis takdir segala sesuatu hingga hari kiamat.

Dalil-Dalil Akal

  1. Sesungguhnya akal sedikit pun tidak memustahilkan adanya qadha’ Allah, takdir-Nya, kehendak-Nya, hikmah-Nya, keinginan-Nya, dan pengaturan-Nya. Bahkan, akal mewajibkannya karena itu semua terlihat pada alam semesta ini.
  2. Beriman kepada Allah, dan kepada kemampuan-Nya menghendaki beriman kepada qadha’, takdir, hikmah, dan kehendak-Nya.
  3. Jika seorang arsitektur membuat desain salah satu istana, dan menentukan masa realisasinya, kemudian ia membangunnya. Maka, pada saat yang telah direncanakan, istana tersebut dari desain berubah menjadi istana yang sesungguhnya persis seperti yang terlihat dalam desain tanpa mengalami sedikitpun pengurangan atau penambahan. Maka, bagaimana Allah Ta’ala tidak dipercayai tidak menentukan takdir dunia hingga hari kiamat? Kemudian, karena kesempurnaan kemampuan-Nya, dan ilmu-Nya, apa yang telah ditentukan Allah tersebut keluar persis seperti yang telah Dia tentukan takarannya, caranya, waktunya, dan tempatnya. Ini disertai dengan kenyataan, bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.

Sumber: Diadaptasi dari Abu Bakr Jabir al-Jazairi, Minhaajul Muslim, atau Ensiklopedi Muslim: Minhajul Muslim, terj. Fadhli Bahri (Darul Falah, 2002), hlm. 60-65.

Beriman kepada Hari Akhir

Orang Muslim menyakini dunia ini mempunyai saat terakhir di mana ia berhenti padanya. Kemudian datang kehidupan kedua, yang tidak mempunyai penghabisan, yaitu hari lain di negeri akhirat. Pada hari tersebut, Allah Ta’ala membangkitkan semua makhluk, mengumpulkan mereka semua kepada-Nya untuk dihisab orang-orang baik dibalas dengan kenikmatan abadi di surga, dan orang jahat dibalas dengan siksa yang menghinakan di neraka.

Hari Kiamat didahului dengan tanda-tandanya, seperti keluarnya Al-Masih Ad-Dajjal, Ya’juj dan Ma’juj, turunnya Nabi Isa Alahis Salam, keluarnya hewan besar, kemunculan matahari dari barat, dan tanda-tanda lainnya. Dilanjutkan dengan peniupan sangkakala kebangkitan dan berdiri di hadapan Allah, Tuhan semesta alam. Dilanjutkan lagi dengan pembagian buku catatan amal perbuatan. Ada orang yang menerimanya dengan tangan kanan dan ada orang yang menerimanya dengan tangan kiri. Kemudian dilanjutkan dengan peletakan timbangan, dilanjutkan dengan proses penghisaban(perhitungan), dan dilanjutkan dengan pemasangan titian. Dan rentetan ini berakhir dengan menetapnya penghuni surga di surga, dan menetapnya penghuni neraka di neraka. Orang Muslim menyakini itu semua berdasarkan dalil-dalil wahyu dan dalil-dalil akal.

Dalil-Dalil Wahyu

  1. Penjelasan Allah Ta’ala tentang hari akhir dalam firman-firman-Nya, misalnya dalam firman-firman-Nya berikut ini:
    • “Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (Ar-Rahman: 26-27).
    • “Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu (Muhammad), maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal? Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan mengujikalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kalian dikembalikan.” (Al-Anbiya’: 34-35).
    • “Orang-orang kafir mengatakan, bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah, ‘Tidak demikian, demi Tuhanku, benar-benar kalian akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan.’ Yang demikian itu mudah bagi Allah.” (At-Taghabun: 7).
    • “Tidaklah orang-orang itu yakin, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan. Pada suatu hari yang besar. (yaitu) Hari manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?” (Al-Muthaffifin: 4-6).
    • “Dan memberi peringatan tentang hari berkumpul (kiamat) yang tidak ada keraguan di dalamnya. Segolongan masuk surga dan segolongan masuk neraka.” (Asy-Syura: 7).
    • “Apabila bumi digoncangkan dengan goncangannya (yang dahsyat). Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban beratnya. Dan manusia bertanya, ‘Mengapa bumi (jadi begini)?’ Pada hari itu bumi menceritakan beritanya. Karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya. Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. Barangsiapa melakukan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihatnya. Dan barangsiapa melakukan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihatnya pula.” (Az-Zalzalah: 1-8).
    • “Yang mereka nanti-nanti tidak lain hanyalah kedatangan malaikat kepada mereka (untuk mencabut nyawa mereka), atau kedatangan Tuhanmu atau kedatangan sebagian tanda-tanda Tuhanmu. Pada hari datangnya sebagian tanda-tanda Tuhanmu tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang bagi dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya. Katakanlah, ‘Tunggulah oleh kalian sesungguhnya kami pun menunggu (pula)’.” (Al-An’am: 158).
    • “Dan apabila perkataan telah jatuh atas mereka, kami keluarkan sejenis binatang melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka, bahwa sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami.” (An-Naml: 82).
    • “Hingga apabila dibukakan (tembok) Ya’juj dan Ma’juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. Dan telah dekatlah kedatangan janji yang benar (hari berbangkit), maka tiba-tiba terbelalaklah mata orang-orang kafir.” (Al-Anbiya’: 96-97).
    • “Dan tatkala putra Maryam (Isa) dijadikan perumpamaan, tiba-tiba kaummu (Quraisy) bersorak karenanya. Dan mereka berkata, ‘Manakah yang lebih baik? Tuhan-tuhan kami atau dia (Isa)?’ Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar. Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan kepadanya nikmat (kenabian) dan Kami jadikan dia sebagai tanda bukti (kekuasaan Allah) untuk Bani Israel. Dan kalau Kami kehendaki benar-benar Kami jadikan sebagai gantimu di muka bumi malaikat-malaikat yang turun-temurun. Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat. Karena itu janganlah kamu ragu-ragu tentang kiamat itu dan ikutilah Aku. Inilah jalan yang lurus.” (Az-Zukhruf: 57-61).
    • “Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing). Dan terang benderanglah bumi (Padang Mahsyar) dengan cahaya (keadilan) Tuhannya dan diberikanlah buku (perhitungan perbuatan masing-masing) dan didatangkanlah para nabi dan saksi-saksi dan diberi keputusan di antara mereka dengan adil, sedang mereka tidak dirugikan. Dan disempurnakan bagi tiap-tiap jiwa (balasan) apa yang telah dikerjakannya dan Dia lebih mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (Az-Zumar: 68-70).
    • “Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka seseorang tidak dirugikan sedikit pun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawi pun, pasti Kami datangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai Pembuat perhitungan.” (Al-Anbiya’: 47).
    • “Maka apabila sangkakala ditiup sekali tiup. Dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali bentur. Maka pada hari itu terjadilah hari kiamat. Dan terbelah langit, karena pada hari itu langit menjadi lemah. Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung Arasy Tuhanmu di atas (kepala) mereka. Pada hari itu kalian dihadapkan (kepada Tuhan kalian), tidak ada sesuatu pun dari keadaan kalian yang tersembunyi (bagi Allah). Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia berkata, ‘Ambil, bacalah kitabku (ini).’ Sesungguhnya aku yakin bahwa sesungguhnya aku akan menemui hisab terhadap diriku. Maka orang itu berada dalam kehidupan yang diridhai. Di surga yang tinggi. Buah-buahannya dekat (kepada mereka dikatakan), ‘Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kalian kerjakan pada hari-hari yang telah lalu. ‘Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata, ‘Wahai alangkah bainya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini). Dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku. Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu. Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku. Telah hilang kekuasaanku dariku.’ (Allah berfirman), ‘Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala. Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta. Sesungguhnya dulu dia tidak beriman kepada Allah Yang Mahabesar. Dan dia tidak mendorong (orang lain) untuk memberi makan orang miskin’.” (Al-Haaqqah: 13-34).
    • “Demi Tuhanmu, sesungguhnya akan Kami bengkitkan mereka bersama syaitan, kemudian akan Kami datangkan mereka ke sekeliling Jahanam dengan berlutut. Kemudian pasti akan Kami tarik dari tiap-tiap golongan siapa di antara mereka yang sangat durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Dan kemudian Kami sungguh lebih mengetahui orang-orang yang seharusnya dimasukkan ke dalam neraka. Dan tidak ada seorang pun dari kalian, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan. Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertaqwa dan membiarkan orang-orang yang zhalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut.” (Maryam: 68-72).
  2. Penjelasan Rasulullah saw. dalam sabda-sabdanya, misalnya sabda-sabdanya berikut ini:
    • “Kiamat tidak akan terjadi hingga seseorang berjalan melewati kuburan orang lain, kemudian ia berkata, ‘Ah, seandainya aku berada di tempatnya’.” (Diriwayatkan Al-Bukhari, Muslim, dan Ahmad).
    • “Sesungguhnya kiamat tidak akan terjadi hingga terjadi sepuluh hal: gerhana di timur, gerhana di barat, gerhana di Jazirah Arab, Dajjal, asap dan hewan besar, Ya’juj dan Ma’juj, terbitnya matahari dari barat, api keluar dari dalam Aden yang mengusir manusia, dan turunnya Nabi Isa.” (Diriwayatkan Muslim).
    • “Dajjal muncul di umatku kemudian hidup selama empat puluh (hari, bulan, atau tahun), kemudian Allah mengutus Isa bin Maryam yang mirip dengan Urwah bin Mas’ud yang kemudian mencarinya dan membunuhnya. Setelah itu, manusia hidup selama tujuh tahun tanpa ada permusuhan di antara dua orang. Kemudian, Allah mengirimkan angin dingin dari arah Syam. Maka, tidak tersisa di atas permukaan bumi orang yang di dalam hatinya terdapat kebaikan atau keimanan sebesar biji atom, melainkan direnggut oleh angin tersebut. Bahkan kalau seandainya salah satu di antara kalian masuk ke tengah gunung, maka angin dingin masuk kepadanya dan merenggutnya. Yang tersisa ialah orang-orang jahat dalam kebodohan seperti burung, dan dalam mimpi-mimpi binatang buas. Mereka tidak mengenal kebaikan dan tidak memungkiri kemungkaran. Kemudian syaitan muncul kepada mereka dan berkata kepada mereka, ’Kenapa kalian tidak merespon ajakanku?’ Mereka berkata, ‘Apa yang engkau perintahkan kepada kami?’ Syaitan menyuruh mereka menyembah berhala. Dalam kondisi seperti itu, rizki mereka banyak dan kehidupan mereka enak. Kemudian, sangkakala ditiup. Maka, tidak ada seorang pun yang mendengarnya melainkan ia memiringkan sisi lehernya (agar bisa mendengar), dan mengangkatnya. Orang yang pertama kali mendengar tiupan sangkakala ialah orang yang sedang melepa kolam untanya. Orang tersebut pun pingsan, begitu juga semua manusia. Kemudian, Allah menurunkan hujan seperti tetesan embun. Kemudian, dari air hujan tersebut tumbuhlah badan manusia. Sangkakala ditiup lagi pada manusia, tiba-tiba mereka berdiri saling memandang yang lain. Dikatakan kepada mereka, ’Hai manusia, mari pergi kepada Tuhan kalian. (Tahanlah mereka, karena sesungguhnya mereka akan ditanya) (Ash-Shaffat: 24).’ Kemudian dikatakan, ’Keluarkan penghuni neraka.’ Ditanyakan, ’Sejak kapan?’ Dikatakan, ’Dari setiap tahun sejumlah sembilan ratus sembilan puluh sembilan’. Itulah hari di mana (anak kecil menjadi tua) dan (hari tersingkapnya betis).” (Diriwayatkan Muslim).
    • “Hari kiamat tidak akan terjadi kecuali pada orang-orang jahat.” (Diriwayatkan Muslim).
    • “Jarak antara dua tiupan sangkakala adalah empat puluh (hari, atau bulan, atau tahun), kemudian Allah menurunkan hujan dari langit kemudian manusia tumbuh seperti tumbuhnya sayuran. Tidak ada anggota badan manusia melainkan diuji, kecuali satu tulang, yaitu tulang di bawah. Dari tulang tersebut, manusia disusun pembentukannya pada hari kiamat.” (Diriwayatkan Muslim).
    • Sabda Rasulullah saw. ketika berkhutbah, “Hai manusia, sesungguhnya kelak kalian dikumpulkan kepada Tuhan kalian dalam keadaan telanjang kaki, telanjang badan, dan tidak khitan. Ketahuilah, bahwa orang yang pertama kali dikenakan pakaian ialah Ibrahim a.s. Ketahuilah bahwa Nabi Ibrahim didatangkan dengan beberapa orang dari umatku, kemudian mereka dibawa ke sebelah kiri. Aku berkata, Wahai Tuhanku, mereka sahabat-sahabatku?’ Allah berfirman, Engkau tidak tahu apa yang mereka kerjakan sepeninggalmu’.” (Diriwayatkan Muslim).
    • “Kedua kaki seorang hamba tidak bisa bergerak hingga ia ditanya tentang empat hal: tentang umurnya di dalam hal apa saja ia gunakan, tentang ilmunya apa saja yang telah ia amalkan, tentang hartanya dari mana ia mendapatkannya dan ia infakkan untuk apa saja, dan tentang badannya di dalam apa saja ia habiskan.” (Diriwayatkan At-Tarmidzi. At-Tarmidzi berkata bahwa hadits ini hasan shahih dan juga disebutkan Muslim di Shahih-nya).
    • “Telagaku (luasnya) adalah perjalanan sebulan. Airnya lebih putih dari pada susu, aromanya lebih wangi daripada kesturi, dan tekonya seperti bintang-bintang di langit. Barang siapa minum airnya, ia tidak akan haus selama-lamanya.” (Diriwayatkan Al-Bukhari, Muslim, At-Tarmidzi, Ibnu Majah, dan Al-Hakim).
    • Sabda Rasulullah saw. kepada Aisyah Radhiyallahu Anha ketika ia ingat neraka kemudian menangis, “Kenapa engkau menangis?” Aisyah menjawab, “Aku ingat neraka kemudian menanngis. Apakah engkau ingat keluargamu pada hari kiamat?” Sabda Rasulullah saw., “Ada tiga tempat di mana seseorang tidak ingat pada orang lain: Di saat berada di timbangan, hingga ia tahu apakah timbangannya ringan atau berat? Di saat buku-buku catatan berterbangan, hingga ia tahu di mana buku catatannya jatuh, di tangan kanannya ataukah di tangan kirinya, ataukah di belakang punggungnya? Dan di titian ketika dipasangkan di antara tepi Jahannam hingga ia berhasil menyeberanginya.” (Diriwayatkan Abu Daud dengan sanad hasan).
    • “Setiap nabi mempunyai doa dan ia telah berdoa dengannya untuk umatnya. Sedang aku merahasiakan doaku sebagai syafaat untuk umatku.” (Diriwayatkan Al-Bukhari, Muslim, At-Tarmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, Malik, Ad-Darimi, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim yang men-shahih-kannya).
    • “Aku penghulu anak keturunan Adam dan tidak ada kesombonngan dalam hal ini. Aku orang yang pertama kali tanahnya terbelah pada hari kiamat dan tidak ada kesombongan dalam hal ini. Aku pemberi syafaat pertama kali dan orang yang pertama kali syafaatnya diterima dan tidak ada kesombongan dalam hal ini. Panji pujian ada di tanganku pada hari kiamat dan tidak ada kesombongan dalam hal ini.” (Diriwayatkan Muslim).
    • “Barang siapa meminta surga kepada Allah hingga tiga kali, maka surga berkata, ‘Ya Allah, masukkan orang tersebut ke surga.’ Barang siapa berlindung diri dari neraka hingga tiga kali, maka neraka berkata, ‘Ya Allah, lindungilah orang tersebut dari neraka’.” (Diriwayatkan At-Tarmidzi, Ibnu Majah, An-Nasai, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim).
  3. Keimanan jutaan para nabi, rasul, ulama, dan orang-orang shalih kepada hari akhir dan apa saja yang terjadi di dalamnya.

Dalil-Dalil Akal

  1. Kebaikan kekuasaan Allah Ta’ala untuk mengembalikan manusia setelah kematian mereka. Sebab, pengembalian mereka itu tidak lebih sulit dari penciptaan mereka tanpa contoh sebelumnya.
  2. Tidak ada sesuatu yang bertentangan dengan akal pada hari kebangkitan dan hari pembalasan. Sebab, akal hanya memungkiri dan memustahilkan pertemuan dua hal yang saling berlawanan dan dua hal yang saling kontradiksi. Hari kebangkitan dan hari pembalasan sedikit pun tidak masuk dalam pembahasan tersebut.
  3. Hikmah Allah Ta’ala yang terlihat dalam semua tindakan-Nya terhadap seluruh makhluk-Nya dan hikmah-Nya yang menjelaskan segala sesuatu itu mustahil menurut akal tidak menghendaki adanya hari kebangkitan bagi makhluk setelah kematian mereka, dan tidak berakhirnya kehidupan dunia, serta tidak adanya balasan atas perbuatan buruk mereka.
  4. Keberadaan dunia dengan kenikmatan, dan penderitaan yang ada di dalamnya menjadi bukti adanya kehidupan lain di alam lain di mana di dalamnya terdapat keadilan, kebaikan, kesempurnaan, kebahagiaan, dan penderitaan yang jauh lebih banyak daripada di dunia. Kehidupan di dunia dengan kebahagiaan dan penderitaan di dalamnya tidak lebih dari sehelai daun kecil jika dibandingkan istana megah, atau taman asri di akhirat.

Sumber: Diadaptasi dari Abu Bakr Jabir al-Jazairi, Minhaajul Muslim, atau Ensiklopedi Muslim: Minhajul Muslim, terj. Fadhli Bahri (Darul Falah, 2002), hlm. 46-56.

Beriman kepada Rasul-Rasul

Orang Muslim beriman bahwa Allah SWT telah memilih di antara manusia sebagai rasul-rasul, mewahyukan syari’at-Nya kepada mereka, menyuruh mereka menyampaikannya sebagai hujjah bagi-Nya pada hari kiamat, mengutus mereka dengan keterangan-keterangan, mendukung mereka dengan mukjizat-mukjizat, dimulai dari Nabi Nuh a.s. dan ditutup dengan Nabi Muhammad saw.

Kendati kebiasaan-kebiasaan manusia juga terjadi pada rasul-rasul: makan, minum, sakit, sehat, lupa, ingat, mati, dan juga hidup. Namun, mereka makhluk yang paling sempurna secara mutlak, dan paling mulia tanpa pengecualian. Iman seorang hamba tidak sempurna, kecuali dengan mengimani mereka secara global atau detail, karena dalil-dalil wahyu dan dalil-dalil akal.

Dalil-Dalil Wahyu

  1. Penjelasan Allah Ta’ala tentang rasul-rasul-Nya, pengutusan mereka, dan risalah-risalah mereka dengan firman-firman-Nya, yang artinya seperti berikut:
    • “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan),’Sembahlah Allah dan jauhilah Thaghut.” (An-Nahl: 36).
    • “Allah memilih utusan-utusan dari malaikat dan dari manusia sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Al-Hajj: 75).
    • “Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Ya’qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus,Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud. Dan (Kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung. (Mereka kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (An-Nisa’: 163-165).
    • “Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan.” (Al-Hadid: 25).
    • “Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya, ‘(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang’.” (Al-Anbiya’: 83).
    • “Dan Kami telah mengutus rasul-rasulsebelummu, melaikan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar.” (Al-Furqan: 20).
    • “Dan sesungguhnya Kami telah memberikan kepada Musa sembilan buah mukjizat yang nyata, maka tanyakanlah kepada Bani Israel, tatkala Musa datang kepada mereka.” (Al-Isra’: 101).
    • “Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu (sendiri), dari Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa Putera Maryam, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh, agar Dia menanyakan kepada orang-orang yang benar tentang kebenaran mereka dan Dia menyediakan bagi orang-orang kafir siksa yang pedih.” (Al-Ahzab: 7-8).
  2. Penjelasan Rasulullah saw. tentang diri beliau, dan saudara-saudaranya dari para nabi dan para rasul dengan sabda-sabdanya seperti berikut.
    • “Allah tidak mengutus seorang nabi pun, melaikan ia peringatkan kaumnya dari si buta sebelah yang pendusta, yaitu Al-Masih Ad-Dajjal.” (Diriwatarkan Al-Bukhari dan Muslim).
    • “Janganlah kalian saling melebihkan para nabi.”
    • Ketika Rasulullah saw. ditanya Abu Dzar r.a. tentang jumlah para nabi, dan para rasul, beliau bersabda, “Jumlah nabi ialah seratus dua puluh ribu, dan jumlah rasul ialah tiga ratus tiga belas.”
    • “Seandainya Musa atau Isa masih hidup, maka tidak ada yang bisa ia lakukan kecuali mengikutiku.” (Diriwayatkan Abu Ya’la).
    • “Itulah Nabi Ibrahim.” Ini beliau ucapkan ketika beliau dipanggil ‘hai manusia terbaik’. Beliau tawadhu’ kepada Nabi Ibrahim.
    • “Seorang hamba tidak layak berkata, ‘Sesungguhnya aku lebih baik dari pada Yunus bin Matta’.”
    • Penjelasan Rasulullah saw. tentang para rasul ketika mereka dipertemukan dengan beliau di Baitul Maqdis, dan beliau shalat sebagi imam bagi mereka, beliau bertemu di langit dengan Nabi Yahya, Nabi Isa, Nabi Yusuf, Nabi Idris, Nabi Harun, Nabi Musa, Nabi Ibrahim dan beliau menjelaskan tentang mereka, dan kondisi yang beliau saksikan dari mereka.
    • “Sesungguhnya Nabi Allah, Daud makan dari hasil kerja tangannya.” (Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim).
  3. Keimanan miliaran kaum Muslimin, dan selain kaum muslimin dari Ahli Kitab Yahudi, dan Kristen kepada rasul-rasul Allah, dan pembenaran yang kuat terhadap risalah mereka, keyakinan mereka terhadap kesempurnaan mereka, dan pemilihan Allah terhadap mereka.

Dalil-Dalil Akal

  1. Rububiyah Allah Ta’ala, dan rahmat-Nya menghendaki pengutusan rasul-rasul dari-Nya kepada makhluk-Nya untuk mengenalkan mereka kepada Tuhan mereka, membimbing mereka kepada sesuatu yang menyempurnakan kemanusiaan mereka, kebahagiaan mereka di dunia dan kebahagiaan mereka di akhirat.
  2. Penciptaan Allah Ta’ala terhadap makhluk untuk menyembah-Nya seperti yang Dia firmankan, “Dan Aku telah menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku,” (Adz-Dzariyat: 56) itu menghendaki pemilihan rasul-rasul, dan pengutusan mereka untuk mengajari manusia bagaimana cara mereka taat kepada-Nya, karena ibadah dan ketaatan adalah tugas pokok penciptaan mereka.
  3. Sesungguhnya pahala karena ketaatan, dan hukuman karena maksiat menghendaki pengiriman rasul-rasul dan pengutusan para nabi, agar di hari kiamat manusia tidak berkata,”Wahai Tuhan kami, kami tidak tahu cara ketaatan kepada-Mu hingga kami bisa taat kepada-Mu dengan benar, dan kami juga tidak mengetahui apa saja kemaksiatan kepada-Mu hingga kami bisa menjauhinya. Pada hari ini, Engkau tidak mempunyai kezhaliman. Oleh karena itu, jangan siksa kami.” Jika itu terjadi, maka manusia mempunyai alasan seperti itu. Jadi, ini menghendaki pengutusan para rasul untuk memutus argumen manusia seperti di atas. Allah berfirman, “(Mereka kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (An-Nisa’: 165).

Sumber: Diadaptasi dari Abu Bakr Jabir al-Jazairi, Minhaajul Muslim, atau Ensiklopedi Muslim: Minhajul Muslim, terj. Fadhli Bahri (Darul Falah, 2002), hlm. 31-35.